“Every adversity, every unpleasant circumstance, every failure, and every
physical pain carries with it the seed of an equivalent benefit”.
(Ralp Waldo Emerson)
Kalimat bijak diatas mungkin sangat mudah
dimengerti. Tetapi ketika mengalami kegagalan maka hanya sedikit individu yang
bisa mengaplikasikan makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Sama halnya
dengan kata bijak yang lain: "Kegagalan adalah sukses yang tertunda".
Benarkah?
Gagal &
Sukses
Jika
kita mengacu pada kisah kehidupan orang sukes yang kita kenal dan
diperkenalkan oleh sejarah maka cenderung diperoleh kesimpulan yang sama bahwa
kegagalan adalah peristiwa potensial yang bersifat netral, ‘hidden potential
events’ yang tidak memiliki makna tertentu kecuali setelah diberi pemaknaan
oleh kita: nasib, takdir, siksaan, cobaan, tantangan atau pelajaran. Apapun
makna yang dibubuhkan pada akhirnya akan kembali pada formula bahwa hidup ini
lebih pada memutuskan pilihan dan merasakan konsekuensi.
Menyikapi
Kegagalan
Penyikapan
individu pada momen di mana kegagalan terjadi dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Membiarkan
Model
penyikapan ini adalah menerima kegagalan dengan kualitas yang rendah berupa
membiarkan saja semua terjadi. Sikap ini dihasilkan dari mentalitas yang rendah
untuk mendobrak keadaan karena tidak memiliki kemauan yang dibangkitkan di
dalam untuk menemukan penyebab yang rasional. Bisa jadi kemauan itu erat
kaitannya dengan level pengetahuan dan harapan yang dimiliki orang. Karena
jawaban rasional tidak ditemukan, maka cara tunggal yang digunakan untuk
memaafkan sikap demikian adalah menempatkan kegagalan dalam wilayah hidup yang
tak tersentuh oleh upaya dirinya dengan meyakini titah takdir atau nasib.
2. Menolak
Model
penyikapan kedua adalah menolak kegagalan.Penolakan itu dilakukan dalam bentuk
menyalahkan orang lain, keadaan atau Tuhan sekalipun, karena dirasakan tidak
adil memberi perlakuan. Biasanya penolakan itu terjadi akibat keseimbangan
hidup yang kurang mendapat perhatian di tingkat intelektual, emosional atau
spritual. Meskipun kegagalan dapat dilumpuhkan, tetapi akibat penolakan yang
dilakukan, keseimbangan antara usaha dan hasil tidak sebanding. Jika diambil
perumpaan maka model hal ini adalah ibarat orang membunuh nyamuk dengan sepucuk
pistol.
3. Menerima
Model
penyikapan ketiga adalah yang paling ideal yaitu menerima kegagalan dengan
kualitas yang tinggi. Di sini kegagalan adalah materi pembelajaran-diri
atau kurikulum pendidikan situasi. Daam hal ini tentu saja bukan berarti bahwa
semakin banyak kegagalan semakin bagus tetapi yang ingin difokuskan adalah
bagaimana individu menempatkan kegagalan sebagai proses yang menyertai
realisasi gagasan. Bisa jadi fakta fisik menunjukkan peristiwa yang belum /
tidak berjalan seperti yang diinginkan oleh perencanaan akan tetapi orang
seperti Edison atau orang lain yang bermazhab-hidup sama merebut tanggung jawab
untuk mengubah hidup dari cengkraman fakta fisik temporer itu. Seperti
dikatakan Dr. Denis Waitley: "There are two primary choices in life: to
accept conditions as they exist, or accept the responsibility for changing
them."
Munculnya penyikapan yang beragam di atas
tidak terjadi secara take for granted begitu saja tetapi dibentuk oleh
sekian faktor antara lain:
a. Lingkungan
Termasuk dalam kategori lingkungan adalah keluarga,
masyarakat dan bangsa di mana kita menjadi salah satu komponen yang ikut
mempengaruhi dan dipengaruhi. Kualitas model penyikapan lingkungan terhadap
persoalan hidup secara umum tergantung tingkat pendidikan, nilai kebudayaan,
atau peradaban yang membentuknya. Orang yang dibesarkan oleh lingkungan
berbeda bagaimana pun punya format pandangan berbeda tentang persoalan hidup.
b. Sistem
Struktural
Selain
lingkungan, faktor sistem struktural yang mengatur organisasi,
lembaga, atau perkumpulan sosial tertentu juga ikut andil terutama
membentuk karakter mentalitas individu dalam menghadapi hidup dan kegagalan
pada khususnya. Mentalitas tinggi akan membentuk kepribadian di mana seseorang
menjadi ‘the cause’ dari peristiwa hidup sementara mentalitas rendah
akan membentuk kepribadian sebagai ‘the effect’.
c. Personal
Meskipun
tidak bisa dinafikan pengaruh yang dimiliki oleh faktor lingkungan dan sistem
struktural, tetapi pengaruh tersebut hanya bersifat menawarkan dan hanya faktor
personal-lah yang menentukan keputusan. Sudah jelas kita rasakan, tidak semua
pengaruh itu murni negatif atau positif sehingga peranan terbesar
terdapat pada kemampuan kita untuk menghidupkan tombol ‘seleksi’ dan
‘pengecualian’ dalam memilih model penyikapan untuk mendukung di antara
yang bekerja untuk merusak atau mandul.
Memaknai
Kegagalan
Tidaklah
benar jika dikatakan bahwa ketidakmampuan seseorang mengambil manfaat dari hidden
potential yang terjadi dalam suatu peristiwa yang menyebabkan kegagalan
semata-mata karena faktor negatif yang diwariskan oleh lingkungan atau sistem
struktural yang ada dalam masyarakat. Justru yang dibutuhkan adalah
bagaimana kita menciptakan model penyikapan ketiga yang dihasilkan dari
pemahaman tentang cara kerja hidup dan dunia. Dalam hal memaknai kegagalan,
kesengsaraan, atau peristiwa menyakitkan lainnya, maka langkah-langkah yang
kemungkinan besar dapat membantu adalah:
1. Menciptakan Kondisi
Makna
tidak datang sendiri tetapi sebagai hasil yang diciptakan oleh usaha untuk
menemukannya, dalam arti menciptakan kondisi dengan kesadaran bahwa kita sedang
menjalani pendidikan situasi untuk mematangkan diri. Kualitas conditioning
akan sebanding dengan benefit yang tersimpan di baliknya. Sebelum Ir. Ciputra
bercerita riwayat hidupnya dari kecil, rasanya semua orang membayangkan betapa
enaknya menjadi sosok yang menyandang sebutan maestro property Indonesia
atau Asia Pasifik. Tetapi dengan pengakuan bahwa dirinya adalah manusia yang
tidak tahu di mana seorang ayah dimakamkan oleh penjajah kala itu yang akhirnya
membuat Ciputra kecil berusia 12 tahun harus hidup tanpa bimbingan ayah,
barulah kita sadar bahwa balasan yang diterimanya sekarang ini adalah
balasan setimpal. Bocah kecil bernama Ciputra harus jalan kaki sepanjang 7 km
karena tujuannya menyelesaikan sekolah dasar. Kata kuncinya bukan pada
kematian seorang ayah di sel penjara penjajah akan tetapi kesadaran bahwa
dirinya harus merumuskan tujuan, visi, dan misi hidup seorang diri. Andaikan
situasi serupa dihadapi oleh kita sendiri, belum tentu kita berani buru-buru
membayangkan alangkah enaknya menjadi sosok Ir. Ciputra.
2. Menciptakan Perbedaan
Model
penyikapan ketiga yang membedakan model pertama dan kedua pun juga tidak
disuguhkan tetapi diciptakan oleh kualitas pembeda dalam mengembangkan
sembilan sumber daya inti di dalam diri yaitu:
- Sumber daya material: fisik, raga
- Sumber daya intelektual: nalar
- Sumber daya emosional: sikap perasaan
- Sumber daya spiritual: hati, rohani
- Sumber daya mental: daya dobrak
- Sumber daya visual: imajinasi
- Sumber daya verbal: komunikasi
- Sumber daya social: relationship
- Sumber daya dukungan eksternal: lingkungan dan sistem struktural
Banyak
hal-hal kecil yang dapat membantu memperbaiki model penyikapan tetapi luput
untuk dijalankan karena sifat manusia yang ingin ‘jump to conclusion’ mendapatkan
hasil yang besar. Di antaranya adalah kesadaran mendengarkan musik, olah raga,
membaca, doa, meditasi, relaksasi senyuman, tepuk tangan atas keberhasilan
orang lain, dan lain-lain.
3. Menggunakan Kemampuan Baru
Hasil
akhir dari pembelajaran diri dengan menjalani pendidikan situasi adalah
memiliki kemampuan baru, baik kemampuan hardware skill dan software
skill atau makna lain yang anda temukan. Tetapi balasan setimpal dari
situasi yang kita rasakan menyakitkan adalah menggunakan kemampuan tersebut
untuk menambah nilai plus, competitive advantage, diri kita bagi orang
lain. Salah seorang yang pernah berhasil menggunakan kemampuan baru itu adalah
prof. Hamka. Mungkin – ini hanya pengandaian – kalau tidak dijebloskan ke
penjara, buku tafsir yang menjadi karya fenomenal Hamka tidak pernah rampung.
Kalau tidak pernah bangkrut yang membuatnya hidup menggelandang sampai
usia 40 tahun, mungkin karya berseri berjudul “The Chicken Soup for
Soul” yang saat ini banyak terpampang di sejumlah toko buku di dunia
tidak akan dihasilkan oleh Mark Victor Hensen.
Tentu
bukan penjara atau hidup menggelandang yang membuat kedua sosok di atas
merasakan balasan setimpal, tetapi pembelajaran diri dalam memaknai setiap
peristiwa hidup yang terjadi justru menjadi kunci untuk mengembangkan sumber
daya di dalam diri masing-masing dan hasilnya digunakan demi kesejahteraan
orang banyak.
Akhir
kata, sebaik-baiknya seseorang maka akan sangat baik jika ia dapat belajar dan
mengambil hikmah dari setiap peristiwa hidup guna memberikan bermanfaat bagi
diri sendiri dan orang lain. Selamat menemukan makna dari peristiwa hidup yang
anda alami guna menciptakan competitive advantage bagi diri sendiri dan
bermanfaat bagi kesejahteraan orang banyak.(jp)
Sumber: Informasi Psikologi Online




















0 komentar:
Posting Komentar