(1)
Jangan Dewasakan Orang Lain,
Dewasakanlah Diri SendiriSering kita lihat / dengar bahwa seseorang mencoba menggurui yang lainnya "Kamu ini kurang dewasa!", dsb. Terkadang sampai memaksakan kehendaknya. Kalau itu adalah terjadi pada suatu organisasi Militer maka kita akan maklum. Kalau itu terjadi pada perusahaan, antara atasan dan bawahan, untuk hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan, ya..... sah sah saja.
Ternyata, sering kali kita sulit membedakan mana itu "Garis Komando" pada suatu organisasi "Resmi" dan mana itu "Non Resmi" (Disini kami pakai istilah "Non Resmi"untuk membatasi diri pada organisasi-organisasi sosial dan lain sebagainya dimana tidak / bukan garis komando seperti militer yang diterapkan).
Perlu mengenal karakter diri:
- Siapa sebenarnya aku (diri kita)?
- Bagaimana sifatku?
- Bagaimana tindakanku selama ini terhadap
lingkungan sekitarku?
- Bagaimana sikapku, terutama pada situasi yang
tidak menguntungkan diriku / pada posisi terjepit?
- Apakah aku termasuk manusia pemaksa kehendak?
- Dan seterusnya!
Pertanyaan pertanyaan ini semua perlu direnumgkan
dengan seksama dan dibandingkan dengan figure ideal yang pernah diidamkan
(figure yang dikagumi).
Figure / sosok ideal:
Masing masing individu pasti punya sosok ideal yang diidamkan. Ini berpulang pada lingkungan masa kecilnya, pola didik yang didapat masa remajanya, pergaulan masa dewasanya, ditambah kemauan untuk berubah / merubah diri menuju sosok diri yang diidamkan. Didalam kita Siu Tao (
Begitu luas dan agungnya "Sosok ideal" tersebut, terasa sulit untuk merubah diri menuju "Sempurna abadi" tersebut.
- Perlunya hati yang bening dan pikiran yang jernih
(modal utama)
- Mau berubah sikap yang selalu dibawa
- Selalu Siu Sin Yang Sin (tindakan yang selalu
menggunakan Wu)
- Berlatih, bergaul, bekerja; berdoa dan beramal
selalu dijalankan / dikerjakan (Siaw You Ce Cai) dan Optimis selalu
- Mendahulukan orang lain ketimbang diri sendiri
- Tegas, Welas Asih dan sabar ditambah intelektual
yang cukup, sebagai tampilan diri dalam masyarakat
Dengan proses yang
berkesinambungan dari waktu kewaktu maka niscaya kita menuju "manusia
seutuhnya".
"Janganlah mengaku bahwa diriku telah dewasa. Tetapi pastikan bahwa orang lain mengenal diriku cukup dewasa"
Oleh: Flyming Lika
"Janganlah mengaku bahwa diriku telah dewasa. Tetapi pastikan bahwa orang lain mengenal diriku cukup dewasa"
Oleh: Flyming Lika
(2)
Kepribadian Ganda
Kepribadian
ganda terbentuk dari rasa traumatik masa kecil yang biasanya terjadi antara
umur 4-6 tahun. Penderita menghibur diri sendiri dari sesuatu yang menyakiti
dengan menciptakan kepribadian lain buat menampung semua perasaannya. Dengan
kata lain si anak berusaha melindungi dirinya dari hal yang tidak menyenangkan
yang pernah dialami.
Agar lebih jelas contohnya seperti ini : ada kepribadian yang tau soal peristiwa traumatik itu, dan ada kepribadian yang sama sekali tidak tahu. Akhirnya mereka terbiasa saling melindungin diri dari masalah dengan bergonta-ganti kepribadiannya hingga mereka tumbuh dewasa. Tiap ada masalah baru, berarti ada kepribadian baru juga. Jadi jangan kaget ada penderita yang bisa punya sepuluh (ato lebih) kepribadian yang berbeda-beda!
Agar lebih jelas contohnya seperti ini : ada kepribadian yang tau soal peristiwa traumatik itu, dan ada kepribadian yang sama sekali tidak tahu. Akhirnya mereka terbiasa saling melindungin diri dari masalah dengan bergonta-ganti kepribadiannya hingga mereka tumbuh dewasa. Tiap ada masalah baru, berarti ada kepribadian baru juga. Jadi jangan kaget ada penderita yang bisa punya sepuluh (ato lebih) kepribadian yang berbeda-beda!
Pemecahan
kepribadian atau sering juga disebut kepribadian ganda, atau juga lebih
terkenal dengan nama alter ego. Merupakan suatu keadaan di mana kepribadian
individu terpecah sehingga muncul kepribadian yang lain. Kepribadian itu
biasanya merupakan ekspresi dari kepribadian utama yang muncul karena pribadi
utama tidak dapat mewujudkan hal yang ingin dilakukannya. Dalam bahasa yang
lebih sederhana dapat dikatakan bahwa ada satu orang yang memiliki pribadi
lebih dari satu atau memiliki dua pribadi sekaligus. Kadang si penderita tidak
tau bahwa ia memiliki kepribadian ganda, dua pribadi yang ada dalam satu tubuh
ini juga tidak saling mengenal dan lebih parah lagi kadang-kadang dua
pribadi ini saling bertolak belakang sifatnya.
Mungkin tidak ada orang
yang benar-benar bisa memahami masalah kepribadian ganda. Sebelum abad ke-20,
gejala psikologi ini selalu dikaitkan dengan kerasukan setan. Namun, para
psikolog abad ke-20 yang menolak kaitan itu menyebut fenomena ini dengan
sebutan Multiple Personality
Disorder (MPD). Berikutnya, ketika nama
itu dirasa tidak lagi sesuai, gejala ini diberi nama baru, Dissociative Identity Disorder (DID).
DID atau kepribadian ganda dapat
didefinisikan sebagai kelainan mental dimana seseorang yang
mengidapnya akan menunjukkan adanya dua atau lebih kepribadian (alter) yang
masing-masing memiliki nama dan karakter yang berbeda.
Mereka yang memiliki kelainan ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, namun si penderita akan merasa kalau ia memiliki banyak identitas yang memiliki cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda.
Walaupun penyebabnya tidak bisa dipastikan, namun rata-rata para psikolog sepakat kalau penyebab kelainan ini pada umumnya adalah karena trauma masa kecil.
Untuk memahami bagaimana banyak identitas bisa terbentuk di dalam diri seseorang, maka terlebih dahulu kita harus memahami arti dari Dissociative (disosiasi).
Mereka yang memiliki kelainan ini sebenarnya hanya memiliki satu kepribadian, namun si penderita akan merasa kalau ia memiliki banyak identitas yang memiliki cara berpikir, temperamen, tata bahasa, ingatan dan interaksi terhadap lingkungan yang berbeda-beda.
Walaupun penyebabnya tidak bisa dipastikan, namun rata-rata para psikolog sepakat kalau penyebab kelainan ini pada umumnya adalah karena trauma masa kecil.
Untuk memahami bagaimana banyak identitas bisa terbentuk di dalam diri seseorang, maka terlebih dahulu kita harus memahami arti dari Dissociative (disosiasi).
(3)
Memaknai Peristiwa
Hidup
“Every adversity, every unpleasant circumstance, every failure, and every
physical pain carries with it the seed of an equivalent benefit”.
(Ralp Waldo Emerson)
Kalimat bijak diatas mungkin sangat mudah
dimengerti. Tetapi ketika mengalami kegagalan maka hanya sedikit individu yang
bisa mengaplikasikan makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Sama halnya
dengan kata bijak yang lain: "Kegagalan adalah sukses yang tertunda".
Benarkah?
Gagal &
Sukses
Jika
kita mengacu pada kisah kehidupan orang sukes yang kita kenal dan
diperkenalkan oleh sejarah maka cenderung diperoleh kesimpulan yang sama bahwa
kegagalan adalah peristiwa potensial yang bersifat netral, ‘hidden potential
events’ yang tidak memiliki makna tertentu kecuali setelah diberi pemaknaan
oleh kita: nasib, takdir, siksaan, cobaan, tantangan atau pelajaran. Apapun
makna yang dibubuhkan pada akhirnya akan kembali pada formula bahwa hidup ini
lebih pada memutuskan pilihan dan merasakan konsekuensi.
Menyikapi
Kegagalan
Penyikapan
individu pada momen di mana kegagalan terjadi dapat dibedakan sebagai berikut:
1. Membiarkan
Model
penyikapan ini adalah menerima kegagalan dengan kualitas yang rendah berupa
membiarkan saja semua terjadi. Sikap ini dihasilkan dari mentalitas yang rendah
untuk mendobrak keadaan karena tidak memiliki kemauan yang dibangkitkan di
dalam untuk menemukan penyebab yang rasional. Bisa jadi kemauan itu erat
kaitannya dengan level pengetahuan dan harapan yang dimiliki orang. Karena
jawaban rasional tidak ditemukan, maka cara tunggal yang digunakan untuk
memaafkan sikap demikian adalah menempatkan kegagalan dalam wilayah hidup yang
tak tersentuh oleh upaya dirinya dengan meyakini titah takdir atau nasib.
2. Menolak
Model
penyikapan kedua adalah menolak kegagalan.Penolakan itu dilakukan dalam bentuk
menyalahkan orang lain, keadaan atau Tuhan sekalipun, karena dirasakan tidak
adil memberi perlakuan. Biasanya penolakan itu terjadi akibat keseimbangan
hidup yang kurang mendapat perhatian di tingkat intelektual, emosional atau
spritual. Meskipun kegagalan dapat dilumpuhkan, tetapi akibat penolakan yang
dilakukan, keseimbangan antara usaha dan hasil tidak sebanding. Jika diambil
perumpaan maka model hal ini adalah ibarat orang membunuh nyamuk dengan sepucuk
pistol.
3. Menerima
Model
penyikapan ketiga adalah yang paling ideal yaitu menerima kegagalan dengan
kualitas yang tinggi. Di sini kegagalan adalah materi pembelajaran-diri
atau kurikulum pendidikan situasi. Daam hal ini tentu saja bukan berarti bahwa
semakin banyak kegagalan semakin bagus tetapi yang ingin difokuskan adalah
bagaimana individu menempatkan kegagalan sebagai proses yang menyertai
realisasi gagasan. Bisa jadi fakta fisik menunjukkan peristiwa yang belum /
tidak berjalan seperti yang diinginkan oleh perencanaan akan tetapi orang
seperti Edison atau orang lain yang bermazhab-hidup sama merebut tanggung jawab
untuk mengubah hidup dari cengkraman fakta fisik temporer itu. Seperti
dikatakan Dr. Denis Waitley: "There are two primary choices in life: to
accept conditions as they exist, or accept the responsibility for changing
them."
Munculnya penyikapan yang beragam di atas
tidak terjadi secara take for granted begitu saja tetapi dibentuk oleh
sekian faktor antara lain:
a. Lingkungan
Termasuk dalam kategori lingkungan adalah keluarga,
masyarakat dan bangsa di mana kita menjadi salah satu komponen yang ikut
mempengaruhi dan dipengaruhi. Kualitas model penyikapan lingkungan terhadap
persoalan hidup secara umum tergantung tingkat pendidikan, nilai kebudayaan,
atau peradaban yang membentuknya. Orang yang dibesarkan oleh lingkungan
berbeda bagaimana pun punya format pandangan berbeda tentang persoalan hidup.
b. Sistem
Struktural
Selain
lingkungan, faktor sistem struktural yang mengatur organisasi,
lembaga, atau perkumpulan sosial tertentu juga ikut andil terutama
membentuk karakter mentalitas individu dalam menghadapi hidup dan kegagalan
pada khususnya. Mentalitas tinggi akan membentuk kepribadian di mana seseorang
menjadi ‘the cause’ dari peristiwa hidup sementara mentalitas rendah
akan membentuk kepribadian sebagai ‘the effect’.
c. Personal
Meskipun
tidak bisa dinafikan pengaruh yang dimiliki oleh faktor lingkungan dan sistem
struktural, tetapi pengaruh tersebut hanya bersifat menawarkan dan hanya faktor
personal-lah yang menentukan keputusan. Sudah jelas kita rasakan, tidak semua
pengaruh itu murni negatif atau positif sehingga peranan terbesar
terdapat pada kemampuan kita untuk menghidupkan tombol ‘seleksi’ dan
‘pengecualian’ dalam memilih model penyikapan untuk mendukung di antara
yang bekerja untuk merusak atau mandul.
Memaknai
Kegagalan
Tidaklah
benar jika dikatakan bahwa ketidakmampuan seseorang mengambil manfaat dari hidden
potential yang terjadi dalam suatu peristiwa yang menyebabkan kegagalan
semata-mata karena faktor negatif yang diwariskan oleh lingkungan atau sistem
struktural yang ada dalam masyarakat. Justru yang dibutuhkan adalah
bagaimana kita menciptakan model penyikapan ketiga yang dihasilkan dari
pemahaman tentang cara kerja hidup dan dunia. Dalam hal memaknai kegagalan,
kesengsaraan, atau peristiwa menyakitkan lainnya, maka langkah-langkah yang
kemungkinan besar dapat membantu adalah:
1. Menciptakan Kondisi
Makna
tidak datang sendiri tetapi sebagai hasil yang diciptakan oleh usaha untuk
menemukannya, dalam arti menciptakan kondisi dengan kesadaran bahwa kita sedang
menjalani pendidikan situasi untuk mematangkan diri. Kualitas conditioning
akan sebanding dengan benefit yang tersimpan di baliknya. Sebelum Ir. Ciputra
bercerita riwayat hidupnya dari kecil, rasanya semua orang membayangkan betapa
enaknya menjadi sosok yang menyandang sebutan maestro property Indonesia
atau Asia Pasifik. Tetapi dengan pengakuan bahwa dirinya adalah manusia yang
tidak tahu di mana seorang ayah dimakamkan oleh penjajah kala itu yang akhirnya
membuat Ciputra kecil berusia 12 tahun harus hidup tanpa bimbingan ayah,
barulah kita sadar bahwa balasan yang diterimanya sekarang ini adalah
balasan setimpal. Bocah kecil bernama Ciputra harus jalan kaki sepanjang 7 km
karena tujuannya menyelesaikan sekolah dasar. Kata kuncinya bukan pada
kematian seorang ayah di sel penjara penjajah akan tetapi kesadaran bahwa dirinya
harus merumuskan tujuan, visi, dan misi hidup seorang diri. Andaikan situasi
serupa dihadapi oleh kita sendiri, belum tentu kita berani buru-buru
membayangkan alangkah enaknya menjadi sosok Ir. Ciputra.
2. Menciptakan Perbedaan
Model
penyikapan ketiga yang membedakan model pertama dan kedua pun juga tidak
disuguhkan tetapi diciptakan oleh kualitas pembeda dalam mengembangkan
sembilan sumber daya inti di dalam diri yaitu:
- Sumber daya material: fisik, raga
- Sumber daya intelektual: nalar
- Sumber daya emosional: sikap perasaan
- Sumber daya spiritual: hati, rohani
- Sumber daya mental: daya dobrak
- Sumber daya visual: imajinasi
- Sumber daya verbal: komunikasi
- Sumber daya social: relationship
- Sumber daya dukungan eksternal: lingkungan dan
sistem struktural
Banyak
hal-hal kecil yang dapat membantu memperbaiki model penyikapan tetapi luput
untuk dijalankan karena sifat manusia yang ingin ‘jump to conclusion’ mendapatkan
hasil yang besar. Di antaranya adalah kesadaran mendengarkan musik, olah raga,
membaca, doa, meditasi, relaksasi senyuman, tepuk tangan atas keberhasilan
orang lain, dan lain-lain.
3. Menggunakan Kemampuan Baru
Hasil
akhir dari pembelajaran diri dengan menjalani pendidikan situasi adalah
memiliki kemampuan baru, baik kemampuan hardware skill dan software
skill atau makna lain yang anda temukan. Tetapi balasan setimpal dari
situasi yang kita rasakan menyakitkan adalah menggunakan kemampuan tersebut
untuk menambah nilai plus, competitive advantage, diri kita bagi orang
lain. Salah seorang yang pernah berhasil menggunakan kemampuan baru itu adalah
prof. Hamka. Mungkin – ini hanya pengandaian – kalau tidak dijebloskan ke
penjara, buku tafsir yang menjadi karya fenomenal Hamka tidak pernah rampung.
Kalau tidak pernah bangkrut yang membuatnya hidup menggelandang sampai
usia 40 tahun, mungkin karya berseri berjudul “The Chicken Soup for
Soul” yang saat ini banyak terpampang di sejumlah toko buku di dunia
tidak akan dihasilkan oleh Mark Victor Hensen.
Tentu
bukan penjara atau hidup menggelandang yang membuat kedua sosok di atas
merasakan balasan setimpal, tetapi pembelajaran diri dalam memaknai setiap
peristiwa hidup yang terjadi justru menjadi kunci untuk mengembangkan sumber
daya di dalam diri masing-masing dan hasilnya digunakan demi kesejahteraan
orang banyak.
Akhir
kata, sebaik-baiknya seseorang maka akan sangat baik jika ia dapat belajar dan
mengambil hikmah dari setiap peristiwa hidup guna memberikan bermanfaat bagi
diri sendiri dan orang lain. Selamat menemukan makna dari peristiwa hidup yang
anda alami guna menciptakan competitive advantage bagi diri sendiri dan
bermanfaat bagi kesejahteraan orang banyak.(jp)
Sumber: Informasi Psikologi Online
(4)
Lirik Lagu Geisha Sedari Dulu
ku hanya terdiam saat kau biarkan
semua kenyataan kau hancurkan dan menghilang
apa kau lupakan keras kau katakan
mencintai aku dan tak kau tinggalkan
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
* apa kau fikirkan perih ku rasakan
tega kau biarkan semua kenangan menghilang
ku takut terbayang tak sanggup lupakan
hilangkan segala yang telah ku rasakan
semua kenyataan kau hancurkan dan menghilang
apa kau lupakan keras kau katakan
mencintai aku dan tak kau tinggalkan
*courtesy of LirikLaguIndonesia.net
* apa kau fikirkan perih ku rasakan
tega kau biarkan semua kenangan menghilang
ku takut terbayang tak sanggup lupakan
hilangkan segala yang telah ku rasakan
reff:
mungkin sedari dulu ku tlah memikirkanmu
jauh dari hidupku ku simpan cinta yang tlah layu
sedari dulu ku mimpikan wajahmu
kembali di pelukku jalani semua seperti dulu
mungkin sedari dulu ku tlah memikirkanmu
jauh dari hidupku ku simpan cinta yang tlah layu
sedari dulu ku mimpikan wajahmu
kembali di pelukku jalani semua seperti dulu
repeat *
repeat reff [2x]
repeat reff [2x]
mungkin sedari dulu (ku tlah memikirkanmu
jauh dari hidupku) ku simpan cinta yang tlah layu
sedari dulu (ku mimpikan wajahmu)
kembali di pelukku jalani semua seperti dulu
jauh dari hidupku) ku simpan cinta yang tlah layu
sedari dulu (ku mimpikan wajahmu)
kembali di pelukku jalani semua seperti dulu




















0 komentar:
Posting Komentar